PTC untuk mengurangi pengangguran

Rabu, 17 Juni 2009

pertanyaan pertanyaan

1. pada saat desain sudah di setujui pasti akan di buat proofingnya untuk ditunjukkan kpd pemberi order untuk disetujui apakah sudah sesuai dengan keinginannya. proofing dapat secara konvensional dan digital yang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing2.tetapi kebanyakan sekarang sudah menggunakan digital proofing sehingga cepat dilaporkan kepada pemberi order untuk di acc/di setujui. yang ingin saya tanyakan adalah alat2 apa saja yang digunakan dalam mengcalibrasi monitor sehingga dapat di buat standar2 yang akan di cek oleh bagian quality control.

Pertanyaan anda diatas agak rancu. Saya berasumsi bahwa anda menyinggung tentang contract proofing yang bisa dilakukan secara digital atau konvensional. Contract proof berupa lembaran kertas yang bisa di acc/ditandatangani oleh pemberi order. Tapi kenapa pada akhir pertanyaan kok yang ditanyakan adalah alat untuk kalibrasi monitor?
Saya coba menguraikan. ...
Final Proof/Contract proof, dulu (sekarang masih ada yang pake) dilakukan dengan cara konvensional menggunkan mesin proof konvensional atau langsung cetak di mesin cetak yang bersangkutan. Sekarang dilakukan dengan cara digital sejalan dengan perkembangan printer warna seperti Epson dan HP dimana kualitas output dari printer2 tsb sudah dapat mensimulasi warna dan kualitas cetak offset, gravure, flexo dan lainnya. Untuk memanfaatkan printer tersebut sebagai alat output digital proof kita perlu mengontrol/setup warna printer tersebut. Kita perlu tambahan software dan hardware. Software berfungsi untuk mengontrol warna dari printer tsb supaya bisa mensimulasi warna mesin cetak. Sofware juga mengontrol pembentukakan image sehingga huruf, vektor dan gambar menyerupai hasil cetak di mesin cetak nanti. softwarenya biasa disebut RIP(raster image processor). RIP ini juga digunakan untuk Imagesetter/ CTF dan CTP. Untuk Digital proof RIP-nya perlu tambahan fungsi Color Management. Supaya warnanya "benar" kita perlu alat untuk mengukur warna baik dari mesin cetak sebagai reference-nya maupun warna dari printer sebagai alat outputnya. Alat untuk mengukur warna tersebut adalah Spectrophotometer tipr tertentu .
Softproof. Proof ini dilakukan di monitor, fungsinya membantu fotografer, desainer, operator pracetak, atau siapapun yang berhubungan dengan proses cetak. Tapi karena sifatnya yang "soft" maka proof ini tidak digunakan untuk "contract" antara satu pihak dengan pihak lainnya, misalnya pemilik order cetak dengan percetakan atau (operator)prepress dengan (operator)press/ Cetak. Untuk mendapatkan softproof yang akurat perlu ada komunikasi warna antar semua bagian proses cetak. Dimulai denga n menyepakati standar cetak yang akan dipakai, tentu berkaitan dengan bagaimana bagian cetak nanti akan mencetak, apakah standar ISO (Fogra/Ugra, Gracol, Ifra, dll) atau standar inhouse (standar percetakan itu sendiri). Selanjutnya warna akan benar jika monitor tersebut di kalibrasi/distandar kan. Untuk kalibrasi monitor kita perlu spectrofotometer atau calorimeter tertentu.
2. proofing akan dilakukan pada setiap tahap/proses, apabila proses yang 1 (tahap desain) sudah disetujui oleh pemberi order dengan kita melaporkan proofignya. setelah proofing desain sudah disetujui akan dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu proses output film.apakah ada standar2 film yang baik misalnya density/densitas/ kepekatan filmnya seberapa?standar penyinarannya seperti apa dengan parameter/alat sebagai acuannya apa?lalu raster apa dan kehalusannya berapa untuk jenis kertas tertentu?
Biasanya standar density(kepekatan) film 4.0 atau lebih diukur dengan Film (tranmision) densitometer. Secara visual kita bisa lihat areal solid(100%) yang cukup lebar kira-kira 2 cm2 kemudian letakkan tepat di depan bola mata melawan lampu penerangan (misalnya TL), Kalau bola lampu tidak terlihat, kira2 densitynya sudah cukup pekat. Untuk cetak diatas kertas koran biasanya mengunakan frekuensi(raster) 85-100 lpi, 100-133 untuk HVS dan diatas 150lpi untuk coated paper (artpaper) kalau kita menggunakan AM screening. Teknologi cetak banyak berkembang sehingga dimungkinkan untuk menggunakan nilai-nilai diatas pakem2 tersebut.

3. proses dilanjutkan dengan pembuatan acuan cetak(pelat)pemrosesan pelat tersebut apakah ada standarnya?dengan apa menstandartkannya?

Pengecekan pembuatan plate dengan menyertakan chart film misalnya Ugra Offset Control Wedge pada saat expose. Berdasarkan chart tersebut kita bisa menilai apakah sudah cukup penyiran atau kurang(under expose) atau berlebihan(over expose), dan tanda2 yang lain misalnya gradasi, slur, doubling, ....

4. di perusahaan/industri percetakan apabila sudah terkomputerisasi dari bagian pre-press baik dalam hal pembuatan film/pelat, serta pada bagian press seperti penggunaan CPC pada mesin Heidelberg.semua datanya direkam dalam bentuk data(soft copy) yang termasuk di dalamnya pengaturan warnanya, lalu apa yang digunakan untuk mengatur color managementnya.

Pengaturan warna di mesin cetak(offset) adalah dengan mengatur ink key. Ink key mengatur flow tinta lebih banyak atau lebih sedikit dengan memutar tombol seperti baut. Kira2 logikanya seperti kran air, kalau mau lebih deras airnya, putar lagi kran lebih lebar. Dengan mengatur ink key diharapkan density tertentu yang merata di areal cetak. Mesin yang lebih canggih pengaturan ink key dilakukan di Unit pengontrol dilengkapi dengan grafik tinta dan tombol2 pengatur. Mesin yag lebih canggih lagi, mesin cetak bisa menerima data CIP3 dari job yang sedang dikerjakan dan mesin akan mengatur ink key berdasarkan data tersebut sehingga membantu operator mendapatkan kerataan tinta yang lebih cepat. Ada beberapa mesin juga yang dilengkapi dengan online densitometer atau spectrophotometer, alat ini membaca control strip dan meneruskan data hasil pembacaan ke mesin cetak untuk kembali mengoreksi bukaan ink key.
CIP3 membantu mepercepat pekerjaan tapi bukan solusi untuk semua hal.

6. apakah tidak ada standarnya yang di tetapkan oleh kantor ibu seperti tempat untuk melihat quality controlnya tersebut?karena warna dapat terlihat hanya jika ada sumber cahaya.akan berbeda warna yang kita lihat jikalau sumber cahayanya berbeda dalam arti kata tempatnya berbeda sumber cahayanya.dan apakah ada standar2 yang lainnya.
(lho.. no 5-nya mana? he..)
Standar ISO untuk Viewing light (lampu untuk melihat hasil cetak) berkode D50 (5000 kelvin) dengan lampu standar berbeda hasil cetak/print akan terlihat berbeda warna juga.

7. dalam proses color management suatu percetakan, masalah apa saja yang disebabkan dan diakibatkan oleh color management itu sendiri.
Hmmmm.... Color management terjemahan bebasnya "pengaturan warna" . Semua aktivitas yang dilakukan untuk mengatur warna menurut saya bisa disebut "Color Management" , baik itu yang masih tradisional atau yang sudah mengikuti perkembangan dunia grafika sekarang ini. Tergantung bagaimana kita mengatur , kalau diatur dengan baik Color management akan membantu dalam proses cetak, menghasilkan output cetak yang baik, pelanggan yang merasa puas, proses yang lebih efisien, dll. Kalau tidak diatur/di-manage dengan baik akan terjadi sebaliknya dalam level yang beragam.

9. color control strip juga di gunakan untuk menganalisa berbagai masalah tentang color management tetapi pada proses cetaknya. seperti yang akan saya lampirkan pada file SM102 79x103 ~ 70x100 Visual.jpg

Control strip sangat berguna untuk mengontrol hasil cetak baik secara otomatis(dengan alat) atau secara visual. Beragam control strip dengan beragam fungsinya
sumber : FGD milis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar