PTC untuk mengurangi pengangguran

Minggu, 21 Juni 2009

COMPANY PROFILE

Sejarah / History :

Prameswari printing & promosi pertama kali didirikan pada tahun 1986 , oleh Bapak H. Ismu Soedibyo. Pada saat itu lokasi kami berada di Jl. Rawamangun Muka Timur dan belum memiliki investasi mesin maupun tempat, namun dengan berjalannya waktu dan perkembangan Perusahaan yang cukup maju, pada tahun 1988 kami sudah dapat membeli sebuah mesin cetak. Dengan bertambahnya usia perusahaan, CV Prameswari terus berkembang, maka pada tahun 1992 kami berhasil membeli sebuah bangunan yang lebih luas di Cipinang Muara II sebagai workshop kami. Sampai dengan saat ini banyak peralatan percetakan dan packaging yang telah kami miliki, diantaranya mesin cetak Heidelberg 1 warna GTO 52, satu set mesin packaging corrugated box, sliter, sloter, dan stiching. Sejak tahun 2003, kami memindahkan kantor administrasi kami ke Kayu Putih Utara dengan tetap mempertahankan workshop kami di
Cipinang Muara II .


CV Prameswari was first established in 1986 by Mr. H. Ismu Soedibyo. The office were located at Jl. Rawamangun Muka Timur without any machine to own. During the time and the company improved, we managed to have a Gestetner printing machine in 1988. After years the company keep showing good improvement so in 1992 we bought bigger building at Jl. Cipinang Muara II for our workshop. Until this moment we have 1 (one) color 52 GTO, one set of Corrugated Box packaging machine, Sliter, Sloter, and Stiching. Since 2003 we need to move our administration office to Jl. Kayu Putih Utara in order to have more space for our workshop in Cipinang Muara II.

Bidang Perusahaan / Line of Product :

Pada saat pertama kali CV Prameswari didirikan pada tahun 1986, Perusahaan kami hanya menyediakan layana jasa percetakan. Namun kami terus mengembangkan hasil produksi perusahaan hingga sampai dengan saat ini kami tidak hanya melayani jasa percetakan namun juga pengadaan barang promosi dan jasa kemasan. Berikut adalah rincian dari produksi CV Prameswari :

When CV Prmeswari first established in 1986, we could only provide printing. After years of development, at present we are not only provide printing but also include packaging and promotion items supplier.

Jasa Percetakan / Printing :
- Buku / Books - Kalender / Calendar - Poster
- Amplop / Envelope - Kop Surat / Letter Head - Selebaran / Flyer
- Kwitansi / Receipt - Map / Folder - Brosur / Brochure
- Undangan / Invitation - Kartu Nama / Name Card - Dll / etc





Pengadaan Barang Promosi / Promotion Items Supplier :
- Tatakan Mouse / Mousepad - USB - Boneka / Stuffed Toys
- Kaos / Shirt - Tas / Bags - Mika / Acrylic
- Cangkir / Mug - Pulpen / Pen - Agenda
- Doorsign - Tatakan Gelas / Coster

Jasa Kemasan / Packaging :
- Tas Kertas / Paper Bag - Karton Box / Carton Box - Box Hadiah / Gift Box
Selama bertahun-tahun kami tetap memakai metode kuno yaitu Kepuasan Pelanggan. Tujuan Perusahaan kami adalah memberikan hasil yang terbaik dengan layanan memuaskan dan tepat waktu untuk pelanggan kami.
Keberhasilan kami sebagai supplier merupakan hasil kerja keras yang memuaskan dari para karyawan kami sebagai suatu tim yang solid.

Over the years we still using the old method which is Costumer Satisfaction. We intent to give the best result with best service in punctual time in order to maintain our costumers.
Our Achievement as a supplier is the result of our employee’s hard work as a solid team.


Jasa Percetakan / Printing
Divisi ini dilengkapi oleh mesin-mesin modern dan dioperasikan oleh tenaga kerja ahli yang berpengalaman. Kombinasi diatas menghasilkan produk terbaik dengan harga bersaing.

This Division is equipped with modern printing machine and operated by experienced expertise. The above combination give best product with competitive price.

Pengadaan Barang Promosi / Promotion Items Supplier
Divisi ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang kreatif di perusahaan kami yang memberikan semangat dan ide-ide baru untuk para pelanggan kami. Divisi ini bukan hanya memberikan ide-ide baru tapi juga memberikan barang-barang promosi yang menunjang.

This division is the only consist with our creative people to give spirit and fresh and new ideas for the costumers. In here we not only give fresh and new ideas but also give the promotion tools in varieties kind.

Jasa Kemasan / Packaging :
Divisi ini menawarkan aneka ragam jenis kemasan khususnya kemasan karton. Kami menyediakan berbagai ukuran dan bahan.

In this Division we offered varieties of packaging specially in carton box. Provide in any kind of measurement and materials.



COMPANY DATA / DATA PERUSAHAAN

Nama Perusahaan / Company Name : CV PRAMESWARI
Alamat / Address : Jl. Kayu Putih Utara
Jakarta Timur 13260
Telp & Fax / Phone & Fax No. : (021) 92587486
Komisaris / Commissioner : Sugi Trisniatin
Direktur / CEO : 1. Direktur Utama / Head Director :
- Cipi Irawan
2. Direktur / Director
- Laksmi Iryanti
Jumlah Karyawan / Number of Employee : 10 orang / persons
Jenis Perusahaan / Line of Product : Jasa Percetakan, Pengadaan Barang
Promosi, Jasa Kemasan / Printing, Promotion
Items Supplier, Packaging.
No. Rekening / Account No. : BNI Rawamangun


Pengalaman Perusahaan / Company’s Work Experience :

1986 : Kemfood
Jakarta Fair

1987 – 1990 : Indomilk Austrade
Kemfood Hoecsh (Aventis)
Hero Supermartket Macrowood

1991 – 2000 : Sri Tokai Tokai Kagu Indonesia
Perumnas PT. Guru
Dian Rakyat Macrowood

2001-Present : PT Tiara Metropolitan – Agung Podomoro Grup
PT. LG Electronics Indonesia
PT. Pfizer Indonesia
PT. Kemuliaan Megah Perkasa
PT. Transfarma Medica Indah
Sahid Sudirman Residence
Hotel Paragon
Arnoot’s Indonesia
RS. Siloam
Indah Kiat Paper.
Fluidcon

Rabu, 17 Juni 2009

pertanyaan pertanyaan

1. pada saat desain sudah di setujui pasti akan di buat proofingnya untuk ditunjukkan kpd pemberi order untuk disetujui apakah sudah sesuai dengan keinginannya. proofing dapat secara konvensional dan digital yang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing2.tetapi kebanyakan sekarang sudah menggunakan digital proofing sehingga cepat dilaporkan kepada pemberi order untuk di acc/di setujui. yang ingin saya tanyakan adalah alat2 apa saja yang digunakan dalam mengcalibrasi monitor sehingga dapat di buat standar2 yang akan di cek oleh bagian quality control.

Pertanyaan anda diatas agak rancu. Saya berasumsi bahwa anda menyinggung tentang contract proofing yang bisa dilakukan secara digital atau konvensional. Contract proof berupa lembaran kertas yang bisa di acc/ditandatangani oleh pemberi order. Tapi kenapa pada akhir pertanyaan kok yang ditanyakan adalah alat untuk kalibrasi monitor?
Saya coba menguraikan. ...
Final Proof/Contract proof, dulu (sekarang masih ada yang pake) dilakukan dengan cara konvensional menggunkan mesin proof konvensional atau langsung cetak di mesin cetak yang bersangkutan. Sekarang dilakukan dengan cara digital sejalan dengan perkembangan printer warna seperti Epson dan HP dimana kualitas output dari printer2 tsb sudah dapat mensimulasi warna dan kualitas cetak offset, gravure, flexo dan lainnya. Untuk memanfaatkan printer tersebut sebagai alat output digital proof kita perlu mengontrol/setup warna printer tersebut. Kita perlu tambahan software dan hardware. Software berfungsi untuk mengontrol warna dari printer tsb supaya bisa mensimulasi warna mesin cetak. Sofware juga mengontrol pembentukakan image sehingga huruf, vektor dan gambar menyerupai hasil cetak di mesin cetak nanti. softwarenya biasa disebut RIP(raster image processor). RIP ini juga digunakan untuk Imagesetter/ CTF dan CTP. Untuk Digital proof RIP-nya perlu tambahan fungsi Color Management. Supaya warnanya "benar" kita perlu alat untuk mengukur warna baik dari mesin cetak sebagai reference-nya maupun warna dari printer sebagai alat outputnya. Alat untuk mengukur warna tersebut adalah Spectrophotometer tipr tertentu .
Softproof. Proof ini dilakukan di monitor, fungsinya membantu fotografer, desainer, operator pracetak, atau siapapun yang berhubungan dengan proses cetak. Tapi karena sifatnya yang "soft" maka proof ini tidak digunakan untuk "contract" antara satu pihak dengan pihak lainnya, misalnya pemilik order cetak dengan percetakan atau (operator)prepress dengan (operator)press/ Cetak. Untuk mendapatkan softproof yang akurat perlu ada komunikasi warna antar semua bagian proses cetak. Dimulai denga n menyepakati standar cetak yang akan dipakai, tentu berkaitan dengan bagaimana bagian cetak nanti akan mencetak, apakah standar ISO (Fogra/Ugra, Gracol, Ifra, dll) atau standar inhouse (standar percetakan itu sendiri). Selanjutnya warna akan benar jika monitor tersebut di kalibrasi/distandar kan. Untuk kalibrasi monitor kita perlu spectrofotometer atau calorimeter tertentu.
2. proofing akan dilakukan pada setiap tahap/proses, apabila proses yang 1 (tahap desain) sudah disetujui oleh pemberi order dengan kita melaporkan proofignya. setelah proofing desain sudah disetujui akan dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu proses output film.apakah ada standar2 film yang baik misalnya density/densitas/ kepekatan filmnya seberapa?standar penyinarannya seperti apa dengan parameter/alat sebagai acuannya apa?lalu raster apa dan kehalusannya berapa untuk jenis kertas tertentu?
Biasanya standar density(kepekatan) film 4.0 atau lebih diukur dengan Film (tranmision) densitometer. Secara visual kita bisa lihat areal solid(100%) yang cukup lebar kira-kira 2 cm2 kemudian letakkan tepat di depan bola mata melawan lampu penerangan (misalnya TL), Kalau bola lampu tidak terlihat, kira2 densitynya sudah cukup pekat. Untuk cetak diatas kertas koran biasanya mengunakan frekuensi(raster) 85-100 lpi, 100-133 untuk HVS dan diatas 150lpi untuk coated paper (artpaper) kalau kita menggunakan AM screening. Teknologi cetak banyak berkembang sehingga dimungkinkan untuk menggunakan nilai-nilai diatas pakem2 tersebut.

3. proses dilanjutkan dengan pembuatan acuan cetak(pelat)pemrosesan pelat tersebut apakah ada standarnya?dengan apa menstandartkannya?

Pengecekan pembuatan plate dengan menyertakan chart film misalnya Ugra Offset Control Wedge pada saat expose. Berdasarkan chart tersebut kita bisa menilai apakah sudah cukup penyiran atau kurang(under expose) atau berlebihan(over expose), dan tanda2 yang lain misalnya gradasi, slur, doubling, ....

4. di perusahaan/industri percetakan apabila sudah terkomputerisasi dari bagian pre-press baik dalam hal pembuatan film/pelat, serta pada bagian press seperti penggunaan CPC pada mesin Heidelberg.semua datanya direkam dalam bentuk data(soft copy) yang termasuk di dalamnya pengaturan warnanya, lalu apa yang digunakan untuk mengatur color managementnya.

Pengaturan warna di mesin cetak(offset) adalah dengan mengatur ink key. Ink key mengatur flow tinta lebih banyak atau lebih sedikit dengan memutar tombol seperti baut. Kira2 logikanya seperti kran air, kalau mau lebih deras airnya, putar lagi kran lebih lebar. Dengan mengatur ink key diharapkan density tertentu yang merata di areal cetak. Mesin yang lebih canggih pengaturan ink key dilakukan di Unit pengontrol dilengkapi dengan grafik tinta dan tombol2 pengatur. Mesin yag lebih canggih lagi, mesin cetak bisa menerima data CIP3 dari job yang sedang dikerjakan dan mesin akan mengatur ink key berdasarkan data tersebut sehingga membantu operator mendapatkan kerataan tinta yang lebih cepat. Ada beberapa mesin juga yang dilengkapi dengan online densitometer atau spectrophotometer, alat ini membaca control strip dan meneruskan data hasil pembacaan ke mesin cetak untuk kembali mengoreksi bukaan ink key.
CIP3 membantu mepercepat pekerjaan tapi bukan solusi untuk semua hal.

6. apakah tidak ada standarnya yang di tetapkan oleh kantor ibu seperti tempat untuk melihat quality controlnya tersebut?karena warna dapat terlihat hanya jika ada sumber cahaya.akan berbeda warna yang kita lihat jikalau sumber cahayanya berbeda dalam arti kata tempatnya berbeda sumber cahayanya.dan apakah ada standar2 yang lainnya.
(lho.. no 5-nya mana? he..)
Standar ISO untuk Viewing light (lampu untuk melihat hasil cetak) berkode D50 (5000 kelvin) dengan lampu standar berbeda hasil cetak/print akan terlihat berbeda warna juga.

7. dalam proses color management suatu percetakan, masalah apa saja yang disebabkan dan diakibatkan oleh color management itu sendiri.
Hmmmm.... Color management terjemahan bebasnya "pengaturan warna" . Semua aktivitas yang dilakukan untuk mengatur warna menurut saya bisa disebut "Color Management" , baik itu yang masih tradisional atau yang sudah mengikuti perkembangan dunia grafika sekarang ini. Tergantung bagaimana kita mengatur , kalau diatur dengan baik Color management akan membantu dalam proses cetak, menghasilkan output cetak yang baik, pelanggan yang merasa puas, proses yang lebih efisien, dll. Kalau tidak diatur/di-manage dengan baik akan terjadi sebaliknya dalam level yang beragam.

9. color control strip juga di gunakan untuk menganalisa berbagai masalah tentang color management tetapi pada proses cetaknya. seperti yang akan saya lampirkan pada file SM102 79x103 ~ 70x100 Visual.jpg

Control strip sangat berguna untuk mengontrol hasil cetak baik secara otomatis(dengan alat) atau secara visual. Beragam control strip dengan beragam fungsinya
sumber : FGD milis

GTO 88 training video

bagi yang punya GTO 1 warna tahun 88 ini ada video training maintenance
1. http://www.youtube.com/watch?v=w7H0uit9yVE&feature=related
2. http://www.youtube.com/watch?v=TQkiuHgKkBE&feature=related
3. http://www.youtube.com/watch?v=rB7s8ilyVhA&feature=related
4. http://www.youtube.com/watch?v=H4cX_1bhats&feature=related
5. http://www.youtube.com/watch?v=vBCZjEQUrJY&feature=related
6.http://www.youtube.com/watch?v=K-II9FUDVSw&feature=related
7. http://www.youtube.com/watch?v=U0zXtDxOQzA&feature=related
8. http://www.youtube.com/watch?v=SPx4dUKHSvg&feature=related
9. http://www.youtube.com/watch?v=wBhB3Qi-KIk&feature=related

semoga bermanfaat

Selasa, 16 Juni 2009

KONVERSI WARNA


Warna pada dasarnya merupakan bentukan 3 dimensi, sehingga disebut sebagai "color space". Untuk merepresentasi bentukan warna 3 dimensi ini dibutuhkan 3 sumbu, bisa RGB, CMY, Lab, HLS, dll. Kemampuan mata melihat memiliki gamut warna yang paling besar, kemudian RGB lebih kecil dan CMY lebih kecil lagi sehingga saat mengkonversi warna ke RGB dan CMY akan terlihat agak kusam (baca: tampilan di monitor). Tetapi ada warna2 yang ada di CMY yang tidak bisa direpresentasi RGB dengan akurat misalnya warna yellow 100%, cyan 100% dan magenta 100%. Sebaliknya ada cukup banyak warna2 RGB yang TIDAK AKAN pernah ditampilkan dengan akurat misalnya ungu, hijau menyala, dll.
CMYK vs RGB
CMY atau CMYK adalah model warna penintaan (substractive color mode), warna2 primernya (Cyan, Magenta, Yellow, BlacK) tergantung pada pigment pada tinta & substrate yang dicetak. Sebagai catatan, printer dan cetakan hanya merupakan "output devices".RGB adalah model warna pencahayaan (additive color mode) dipakai untuk "input devices" seperti scanner maupun "output devices" seperti display monitor, warna2 primernya (Red, Blue, Green) tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti CCD atau PMT pada scanner atau digital camera, CRT atau LCD pada display monitor.Kedua model warna CMYK maupun RGB adalah tidak "merdeka", artinya CMYK tergantung pada proses cetak, pigment, substrate & sedangkan RGB tergantung pada kapasitas teknologi peralatan yang dipakai; artinya kalau kita mempunyai data warna R 180, maka pada 2 monitor yang berbeda kita mendapatkan persepsi yang berbeda pula, karena sangat sulit untuk menstimulasikan 2 monitor yang berbeda - apalagi kalau teknologi yang dipakai berbeda pula.Karena pemanfaatan RGB itu biasanya dikontrol oleh pabrik alat, maka relatif lebih mudah bagi tim riset dan pengembangan pabrik alat tersebut untuk meningkatkan kemampuan alatnya agar dapat mencapai mutu yang tinggi dengan toleransi yang rendah.Lain halnya dengan model warna CMYK ,khusus untuk cetak konventional, tinta diproduksi oleh pabrik tinta dan dicetak oleh percetakan menggunakan barbagai macam kertas. Proses reproduksi warna dilakukan dengan berbagai macam parameter, dan hasilnya pun dibawa kemana-mana untuk evaluasi -yang sering dibawah kondisi penerangan yang berbeda-beda - masalah metameri - sehingga menimbulkan banyak silang pendapat.
UCR vs GCR
Secara teoritis menggabungkan warna red, green dan blue dalam jumlah sama akan menghasilkan abu2 netral, sehingga red 50%, green 50% dan blue 50% bisa digantikan hanya oleh tinta black 50%. Photoshop mengenal UCR (Under Color Removal) dan GCR (Gray Component Replacement), artinya pada UCR hanya warna-warna shadow yang digantikan oleh tinta hitam, sedang pada GCR sejak dari warna abu-abu sudah akan digantikan oleh tinta hitam. Default Photoshop adalah GCR Medium.UCR maupun GCR digunakan oleh Photoshop sebagai parameter apabila kita hendak mengkonversi RGB ke CMYK. Mempelajari lebih lanjut penggunaan UCR maupun CGR tergantung pada proses cetak, sehingga kita mendapatkan parameter yang paling sesuai dengan cetakan.Saya mempunyai trik mengkonversi 1 gambar dengan 2 macam proses konversi; (1) biasanya saya pilih text hitam dan mengkonversi ke CMYK dengan Black Maximum, lalu (2) hasil Black tersebut kita "merge" ke hasil konversi gambar lainnya, sehingga text akan muncul 100%K overprint, tidak bolong. Hanya perlu diingat pada perhitungan GCR tidak berlaku 50%C + 50%M + 50%Y = grey, disini Photoshop menggunakan parameter standard tinta international (ISO dll.). Oleh karenanya, bila tinta yang kita gunakan tidak standard, maka konversi RGB ke CMYK menjadi issue yang ramai. Dengan kata lain, tidak ada satu solusi yang dapat memecahkan problem tersebut, mengingat banyak faktor yang tidak terukur atau standar.
Tips Konnversi
Jadi secara sederhana jangan harapkan warna RGB akan dikonversi sempurna ke CMYK. Tetapi perlu diingat bahwa warna adalah tampil dalam konteksnya, sehingga pada kebanyakan problem sesungguhnya bukanlah warna RGB tidak bisa dikonversi dengan baik, tetapi warna terlihat kusam karena impuritas warna.Logikanya demikian, warna CMYK yang terdiri atas lebih dari 2 channel akan tampil kusam. Contoh magenta 100% yellow 100% akan tampil sebagai warna merah yang pekat, tetapi menggunakan magenta 100% yellow 100% dan cyan 10% akan memberikan kesan kusam.Jadi untuk menghindari warna tampil kurang bagus atau kusam, caranya adalah setelah mengkonversi ke CMYK, tambahkan saturasi kira2 10-20 dengan fungsi Image>Adjust>Hue/Saturation (Ctrl/Cmd + U)Tidak ada yang salah dengan konversi RGB ke CMYK di Photoshop. Yang menjadi masalah adalah kurangnya pengetahuan kita tentang warna.
Tips:
1. Simpanlah data warna original dan jangan mengkonversi warna jika tidak dibutuhkan, baik Lab --> RBG --> CMYK ataupun sebaliknya.
2. Konversi warna hanya digunakan pada saat terakhir, apabila kita akan membuat film separasi atau CTP.
3. Gunakan model data CMYK sebagai input untuk membuat Digital Proofing, jadi mohon maaf jangan membuat Digital Proofing kalau kita tidak tahu mau diapakan gambarnya. Target Profile harus jelas sekali, dan proses konversi RGB ke CMYK harus "identical" untuk digital proofing maupun pembuatan film separasi atau CTP, kemudian baru lakukan software proofing seperti dengan GMG, EFI, ORIS dll. untuk mengkonversi CMYKtarget ke CMYKproof.
"Mapping" Color Management
Dalam Color Management saat melakukan konversi RGB ke CMYK standar Photoshop, maka diperhitungkan gamut dari perangkat output saat melakukan "mapping" warna dari RGB ke CMYK. Kelebihannya adalah semua warna RGB akan dicoba "mapping" ke CMYK dan tidak ada warna yang cenderung flat karena di luar gamut. Kekurangannya adalah jika gambar asli tidak dikoreksi dengan optimal hasilnya malah akan cenderung kusam. Oleh karena itu saat menggunakan color management terdapat "rendering intent" yang berbeda-beda, jika anda mengkonversi gambar kartun, foto atau ilustrasi. Sebagai catatan, biasanya warna kartun adalah warna pastel, sebaiknya dalam GCR menggunakan Black minimum, kecuali skets hitamnya.Bit DepthMetafora bit depth adalah mainan LEGO. Perbedaan Lego orang dewasa dan anak kecil adalah lego orang dewasa berukuran kecil. Untuk merepresentasi bentukan color space 3 dimensi dari warna bayangkan kita ingin membuat bola dengan lego untuk orang dewasa dan anak kecil. Bola yang dibuat dengan lego orang dewasa akan menghasilkan transisi bola yang lebih halus.Bekerja dengan bit depth tinggi akan memberikan kemungkinan hasil akhir yang lebih baik. Tetapi pada kebanyakan gambar hal ini tidak akan banyak berpengaruh. Bit depth tinggi sangat diperlukan untuk kondisi koreksi yang ekstrim atau kondisi gambar tidak ideal.RawRaw komparasinya adalah film negative sehingga color spacenya lebih besar dari TIFF maupun JPG. TIFF dan JPG komparasinya adalah slide positif, artinya "what you see is what you get." Sedang dengan RAW, kita menyimpan data secara lengkap sehingga ketika dibuka bisa dipilih seperti halnya kita mencetak film negatif bisa dipilih lebih terang/gelap, diatur warnanya.Memilih film negatif dan slide positif tidak ada benar dan salah, yang adatinggal preferensi fotografer.
MAC atau PC?
Semua representasi warna secara matematis di PC dan Mac adalah SAMA. Masalah utama adalah representasi visual, bukan file aslinya. Jadi bekerja dengan Mac dan PC BISA MENGHASILKAN OUTPUT YANG SAMA.Keuntungan menggunakan Mac adalah monitor Mac secara default sudah dirancang untuk memiliki gamma (baca:kontras dan gelap terang) seperti kertas di mana warna putih tidak terlalu putih dan warna gelap tidak terlalu pekat. Sedang monitor PC secara default disimulasikan untuk kondisi elektronik seperti televisi yang kontras jauh lebih tinggi. Oleh karena warna yang sama akan tampil di monitor PC lebih kontras dan lebih gelap dibanding ditampilkan di monitor Mac.Solusinya adalah melakukan kalibarasi sederhana menggunakan Adobe Gamma yang ada di Control Panel di mana monitor PC dikalibrasi menggunakan gamma 1.8, bukan 2.2 yang merupakan default dari monitor PC.Memaksakan display monitor dengan cetakan adalah investasi yang besar sekali, mungkin banyak yang tidak setuju dengan saya dalam hal ini. Kepercayaan berlebihan terhadap display monitor (Soft proofing) dapat menimbulkan masalah karena SDM kurang paham & mengandalkan supplier untuk mengkalibrasi monitor dan perlu diingat jarang sekali color monitor yang dapat mengukur temperatur warna secara otomatis, jadi penggunaan Gamma tidak menjamin kalibrasi monitor berfungsi sempurna.
sumber : mahamerubali

MEMILIH MEDIA KERTAS UNTUK PROMOSI


Bagaimana mencetak media promosi, yang berhubungan dengan media kertas. Sipenanya tampaknya adalah seorang desain grafis di bidang marketing yang banyak bergelut dengan brosur promosi, kartu ucapan, undangan, dan kartu nama.
Tahu produk promosi
Seorang desainer grafis layaknya memahami dulu produk akhir yang akan dibuat baru kemudian melakukan review jenis kertas yang akan digunakan berdasarkan properties kertas yang umum. Brosur promosi umumnya menggunakan kertas tipis. Kartu ucapan dan kartu bisnis jamaknya menggunakan kertas tebal, kata kartu sendiri menyiratkan kertas harus kaku dan tebal. Brosur sendiri bisa dalam bentuk postcard, yang umunya menggu- nakan kertas tebal. Sementara surat undangan bisa tipis, dan kalau kartu undangan tentu kembali haru cari yang tebal dan kaku. Bila undangan dalam bentuk surat, bisanya menggunakan kertas tipis yang bisa dilipat. Jadi lagi-lagi tergantung bagaimana suatu produk promosi ingin dibentuk dan diwujudkan dalam suatu projek pemasaran.
Kartu undangan
Pemilihan kertas tebal buat kartu undangan sangat relatif tergantung bagaimana designer membuat kartu undangan itu sendiri dan bagaimana pelanggan memberi masukan. Kartu undangan yang formal umumnya menggunakan kertas coated atau kertas fancy (fancy paper). Kertas Art Board, kertas yang tebal dengan coating bisa menjadi salah satu pilihan. Walaupun Art Board termasuk golongan kertas komoditi, namun karena kertas coated memberi sifat yang kilap dan hasil cetakan yang superior, maka desainer banyak menggunakannya untk kartu undangan. Bila desainer ingin membuat kartu undangan yang lebih khsus, maka pemakaian kertas fancy menjadi pilihan. Jenis dan kualitasnya sangat bervariasi, bisa dalam bentuk kertas coated dan uncoated. Namun kertas fancy uncoated mempunyai karakter yang khusus dan berbeda misalnya dengan HVS, fotokopi dan kertas koran. Ketiga jenis kertas uncoated ini masuk dalam kategori kertas komoditi dan umumnya tipis dengan gramatur dari 50 - 150 gsm.
Ciri dan property kertas
Pertama, gramatur yang umum dari kartu adalah kertas diatas 170 gsm, semakin tinggi akan semakin tebal. Kedua, warna baik kertas putih yang sangat tinggi brightness-nya atau yang berwarna khusus merupakan karakter penting karena akan memberi hasil cetak yang berbeda dengan proses pencampuran tinta. Ketiga, tekstur kertas menambah karakter dari keistimewaan kertas, seperti embos, laminasi dengan bahan metalik, keemasan dlsbgnya. Penambahan tekstur bisa dilakukan setelah kertas diproduksi, melalui emboss roll. Tekstur yang unik bisa dilakukan diatas mesin kertas itu sendiri disebabkan oleh material serat dan warna yang khusus atau melalui proses "watermark roll" yang dipasang pada bagian wire dari mesin kertas. Watermark roll akan membuat bayangan air yang unik dan khusus saat kertas selesai dikeringkan dan diproduksi.
Peranan Spec Representative
Seorang desainer yang tidak mempunyai latar belakang kertas, pasti akan bingung dan pusing memilih kertas fancy apa yang cocok buat projek cetak.Di luar negri seperti di US dan Eropa sangat umum suatu pabrik kertas khusus atau ditributor kertas khusus, bukan kertas komoditi, menyewa "Spec Representative" yang tugasnya melakukan pendekatan ke desainer baik dalam arti individu dan perusahaan.Mereka tidak menjual dalam arti harfiah, mereka melakukan meeting atau presentasi baik dalam format kelas ataupun format "makan siang rame-rame". Spec Rep mengundang beberapa desainer untuk bertemu di suatu restauran yang enak untuk melakukan perbincangan santai tentang karakter kertas tersebut mengenai printability, runnability dan convertability. Saat para desainer tertarik atas karakter kertas dan potensi kemampuan kertas, mereka selanjutnya akan membuat suatu "job" dengan spesifikasi kertas khusus tersebut. Pada saatnya pekerjaan cetak dilakukan, maka percetakan harus mencari kertas yang dimaksud dengan informasi lengkap dari desainer dimana untuk membelinya. Jadi percetakan bukan pihak yang menentukan jenis kertas yang dipakai.
Tips praktis
Coba kunjungi toko kertas yang khusus bergerak di kertas special bukan yang komoditi, untuk mendapat petunjuk. Biasanya mereka mempunyai berbagai macam jenis kertas yang ditujukan buat undangan. Walaupun akhirnya tergantung dari kreatifitas designer sendiri bagaimana meracik keinginan pelanggan dan pengetahuan atas kertas yang tersedia dipasar. Banyak desain yang unik menggunakan kertas yang sebelumnya tidak ditujukan buat undangan selama prinsip utama ketebalan tidak ditinggalkan. Misalnya contoh ekstrim adalah penggunaan kertas buatan tangan (hand made paper), dimana warna dan tekstur sangat unik dan berbeda. Tidak jarang kartu undangan perkawinan menggunakan kertas tipe ini, namun sekali lagi biasanya selalu tebal. Kartu undangan yang tipis akan sangat tidak impressive saat dipegang dan diterima oleh para undanganBrosur promosiBrosur promosi lebih banyak menggunakan kertas tipis baik uncoated dan coated, yang masuk dalam kategori kertas komoditi. Mengingat brosur promosi dicetak dalam jumlah besar untuk melakukan promosi penjualan agar dapat mencapai masyarakat banyak dan luas, maka aspek biaya menjadi kritis. Sehingga penggunaan kertas komoditi lebih jamak bila dibandingkan dengan penggunaan kertas fancy.Kertas uncoated seperti HVS, fotokopi lebih murah dibanding kertas coated bisa sekitar 30% atau lebih tergantung siklus pasar. Keunggulan kertas coated adalah hasil cetaknya kilap dengan warna yang tajam dan kontras, tentunya mempunyai daya tarik dan kesan yang superior terhadap suatu barang yang dipromosikan.
sumber : mahamerubali